Indonesia English Japanese Chinese Simplified Arabic German


Tampilkan postingan dengan label Hemodialisa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hemodialisa. Tampilkan semua postingan

Cara untuk mengurangi kandungan kalium dalam buah dan sayuran

Pada pasien hemodialisa umumnya terjadi hiperkalemi (tingginya kadar kalium dalam darah). Hal ini akan berdampak timbulnya rasa sesak. Sehingga dalam pengaturan diet (makanan), pasien sering merasa takut untuk mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung kalium. Kalium sangat banyak pada bahan makanan jenis sayur dan buah-buahan. Bila pasien membatasi sayur dan buah-buahan, hal tersebut juga tidak baik. Karena pasien akan kekurangan vitamin C dan serat yang berakibat sulit buang air besar. Bagaimana cara, agar pasien hemodialisa dapat mengkonsumsi sayur dan buah-buahan? Ada tiga cara agar pasien hemodialisa dapat mengkonsumsi sayur dan buah-buahan. Ketiga cara tersebut sebagai berikut :
  1. Merendam (sayur dan buah-buahan) dengan air panas selama 15 menit. Cara ini dapat menghilangkan kadar kalium sebanyak 5 % dari kadar awal.
  2. Merebus (sayur dan buah-buahan) selama 15 menit. Caranya adalah panaskan air, pada saat air sudah mendidih masukan sayur dan buah-buahan ke dalam air mendidih tersebut selama 15 menit. Kalium akan berkurang sebanyak 10 %. Cara ini biasa dikenal dengan stup.
  3. Dibuat manisan (direbus dengan penambahan gula pasir). Caranya sama dengan nomor 2 hanya saja ditambahkan gula pasir. Cara ini dapat mengurangi kadar kalium sebanyak 15 %. Untuk pasien hemodialisa dengan komplikasi diabetes mellitus tidak disarankan dengan cara nomor 3.

Selain dengan ketiga cara tersebut di atas, pasien hemodialisa masih dapat memilih buah-buahan yang dapat dimakan dalam kondisi segar yaitu papaya dan apel hijau. Papaya memang memiliki kadar kalium yang sedang, tetapi papaya mengandung serat yang dapat mengikat kalium, sehingga kalium yang terkandung di dalamnya dapat dibuang melalui feses.

Satu hal lagi, ada 2 jenis buah-buahan yang TIDAK BOLEH DIKONSUMSI oleh pasien hemodialisa dalam bentuk apapun, yaitu pisang dan belimbing. Pisang mengandung kalium yang sangat tinggi, walaupun sudah melalui proses perebusan, kandungan kalium dalam pisang masih berbahaya untuk dikonsumsi oleh pasien hemodialisa. Sedangkan belimbing mengandung suatu zat fitokimia (senyawa non gizi) yang memberikan dampak sesak dan tidak dapat hilang dalam perebusan. Untuk sayur-sayuran, intinya adalah menghindari mengkonsumsi sayuran mentah.

Oleh : Syarief Darmawan, M.Kes (Ahli Gizi YGDI)

Apa yang terjadi, bila tubuh kekurangan air putih....

11 Efek Kekurangan Air Putih Bagi Tubuh


Minum merupakan salah satu kegiatan wajib bagi tubuh kita. Selain menyegarkan tenggorokan, minum juga bermanfaat untuk membantu melancarkan pencernaan tubuh dan meningkatkan metabolisme tubuh. Selain itu, pentingnya air dalam tubuh tersebut, memiliki banyak fungsi bagi kesehatan tubuh.

Fungsi Air Minum

efek kekurangan air putih
Berikut ini beberapa fungsi air minum bagi tubuh :
  • Sebagai zat pelarut di dalam tubuh
  • Sebagai zat katalisator
  • Sebagai zat untuk mengatur suhu tubuh
  • Untuk melepas dahaga
  • Melancarkan sistem pencernaan
  • Menjaga kesehatan tubuh
  • Mengeluarkan racun dalam tubuh
  • Penyedia elektrolit bagi tubuh
Itulah beberapa manfaat air putih bagi tubuh kita. Sangat banyak bukan manfaatnya? Dengan banyaknya manfaat air di atas, masih saja banyak orang yang tidak mau mengkonsumsi air dengan cukup. Orang yang kurang dalam mengkonsumsi cairan, biasanya akan menunjukkan ciri-ciri tertentu akibat kurang minum air putih.

Berikut ini yang akan terjadi ketika tubuh mengalami kekurangan air putih :
  1. Kelelahan dan mudah lelah (Seseorang yang kurang mengkonsumsi air putih akan mudah merasakan lelah. Hal ini disebabkan karena saat seseorang mengkonsumsi sedikit air, metabolisme tubuh dan cairan di dalam tubuh akan berkurang drastis, sehingga merasa cepat lelah.)
  2. Masalah pada pencernaan ( Cairan yang masuk ke dalam tubuh, terutama air putih sangat dibutuhkan untuk membantu proses pencernaan tubuh. Konsumsi air putih yang sedikit akan berpengaruh terhadap buruknya pencernaan pada tubuh.) Beberapa masalah pencernaan yang muncul karena kurang minum air putih : Diare, Sulit buang air besar, Sulit buang air kecil, Sakit perut
  3. Kulit Kusam ( Kebiasaan minum air putih secara teratur, dapat membantu menjaga kesegaran tubuh. Hal ini     dapat dipastikan, efek kekurangan air putih pada tubuh dapat menyebabkan kulit menjadi kusam dan kurang segar. Selain itu, tubuh juga akan terlihat pucat dan seperti tidak bertenaga.)
  4. Menganggu fungsi ginjal ( Sebelum mempengaruhi pencernaan, ginjal akan mengalami gangguan fungsinya akibat kekurangan minum air putih. Proses pencernaan melibatkan banyak organ pencernaan, salah satunya adalah ginjal. Selain ginjal, beberapa organ pencernaan di bawah ini juga akan menurun fungsi nya : Usus, Lambung,Tenggorokan,Hati,Kandung Kemih,Saluran Kencing
  5. Kurang Konsentrasi ( Daya konsentrasi di kontrol melalui otak. Efek kekurangan air putih, maka bagian otak pun akan mengalami kekurangan cairan. Kondisi otak yang mengalami kekurangan cairan ini akan menyebabkan berbagai gangguan konsentrasi. Konsentrasi ini sangat diperlukan untuk melakukan aktivitas. Hal ini dapat berdampak pada beberapa hal, antara lain : Mudah bengong dan melamun , Sering salah dalam mengambil keputusan , Sulit mengerjakan tugas , Mudah melakukan kesalahan
  6. Halusinasi ( Halusinasi merupakan keadaan seperti melihat sesuatu, namun sebenarnya objek yang lihat tidaklah nyata. Halusinasi merupakan salah satu ciri-ciri yang disebabkan oleh kurangnya orientasi, yang salah satunya disebabkan oleh efek akibat kekurangan air putih. Halusinasi akan sangat mengganggu kegiatan sehari-hari, apalagi jika membutuhkan daya konsentrasi.)
  7. Mudah Mengantuk ( Salah satu ciri orang yang kurang minum air putih adalah akan mudah mengantuk. Perlu diingat, air putih dan cairan berfungsi untuk menjaga kesegaran tubuh, sehingga ketika tidak meminum air putih, maka tubuh tidak akan terasa sega. Akibat kurang air minum, mengakibatkan gejala sering ngantuk menguap dan mata yang terlihat sangat lelah.)
  8. Tenggorokan Kering ( Ketika sedang makan pasti akan merasa haus dan membutuhkan minum. Minum dapat membuat makanan yang dikonsumsi menjadi lebih mudah untuk ditelan. Kemudian akan memudahkan pencernaan, yang diteruskan ke usus, lalu sampai ke lambung. Kurangnya minum air putih akan membuat tenggorokan anda terasa kering, dan efek selanjutnya adalah radang pada tenggorokan.)
  9. Kepala Pusing ( Dengan berkurangnya cairan yang masuk ke otak, maka akan terjadi gangguan pada bagian tersebut. Kurang minum akan membuat kepala terasa sakit dan pusing.)
  10. Urin berwarna pekat ( Salah satu ciri umum yang mudah di deteksi ketika sedang mengalami kekurangan cairan adalah urin anda yang berwarna sangat pekat. Apabila urin yang normal, akan berwarna bening dan kekuningan, namun pada orang yang kurang minum air putih akan berwarna kuning pekat. Hal dengan jelas menunjukkan bahwa tubuh anda mengalami kekurangan cairan.)
  11. Nyeri ketika buang air kecil ( Salah satu hal yang menjadi ciri-ciri dari kurangnya air putih adalah rasa sakit ketika melakukan buang air kecil. Hal ini dapat terjadi ketika kandung kemih, sudah mengalami infeksi. Kandung kemih membutuhkan cairan yang cukup agar dapat melakukan sekresi atau pembuangan dengan baik dan sempurna. Cairan yang sedikit akan menyebabkan kandung kemih mengalami infeksi, dan menyebabakan rasa nyeri ketika buang air kecil )
Itulah beberapa akibat kurang minum air minum pada tubuh. minumlah air secara teratur agar kesehatan tetap terjaga.

Kebutuhan Air Minum Setiap Harinya
Tubuh manusia pada dasarnya terdiri dari 80 % air pada bayi, dan 60 % air pada orang dewasa. Hal ini menunjukkan bahwa tubuh sangat membutuhkan kandungan air yang banyak setiap harinya. Para ahli sendiri merekomendasikan agar dalam sehari, kita harus mengkonsumsi air minum minimal 8 gelas dalam sehari, dengan ukuran gelas 200 ml. itu berarti tubuh kita harus memiliki asupan air mineral sebanyak 1 – 2 liter per hari.

Untuk mendapatkan air sendiri, tidak harus mengkonsumsi air putih saja. Mengkonsumsi makanan yang mengandung air juga dapat membantu menambah cairan pada tubuh seperti buah-buahan. Begitu pula dengan minum minuman jenis lain seperti susu.

Tarif transplantasi ginjal mengalami kenaikan....Berikut tarifnya


Tarif Transplantasi Ginjal Untuk transplantasi ginjal, mengalami kenaikan yang sangat signifikan. Untuk Rumah Sakit tipe A, kelas 1 pada regional 1 menetapkan tarif sebesar Rp. 416,780,100. Permenkes yang lama, hanya menetapkan tarif flat untuk semua kelas yaitu Rp. 250.000.000. Ini berita baik untuk pasien gagal ginjal, dimana semua orang bisa melakukan transplantasi ginjal.



Sumber : http://www.kpcdi.org/2016/11/09/permenkes-nomor-52-tahun-2016-tarif-cangkok-ginjal-naik-dan-tarif-cuci-darah-turun/

hemodialysis video animasi, transplantasi, CAPD dan AV Graft

SELAMAT MENONTON
Video cara pemasangan Graft



Video proses Dialysis



HEMODYALISIS


TRANSPLANTASI





TERIMA KASIH SUDAH MENONTON VIDEO KAMI

Mitos dan fakta tentang hemodialisa atau cuci darah

Mitos: Satu-satunya pilihan untuk menjalani dialisis adalah untuk pergi ke klinik dialisis setidaknya tiga kali per minggu selama berjam-jam pada suatu waktu.
Fakta: Dialisis dapat dilakukan dengan banyak cara. Anda dapat melakukan hemo-dialisis yang dilakukan di klinik dialisis, rumah sakit, atau dalam kenyamanan rumah Anda sendiri. Atau, Anda dapat melakukan dialisis peritoneal yang dilakukan di rumah Anda. Anda dan dokter Anda memutuskan bentuk dialisis dan tempat yang terbaik untuk Anda, dan didasarkan pada kondisi medis Anda dan keinginan Anda.

Mitos: Dialisis menyakitkan.
Fakta: Tergantung pada bentuk dialisis yang Anda pilih, jika memilih hemodialisis Anda mungkin memiliki beberapa ketidaknyamanan ketika jarum dimasukkan ke dalam fistula, tetapi kebanyakan pasien biasanya tidak memiliki masalah lain. Pengobatan dialisis itu sendiri tidak menimbulkan rasa sakit. Namun, beberapa pasien mungkin memiliki penurunan tekanan darah yang dapat menyebabkan mual, muntah, sakit kepala atau kram. Namun, jika Anda berhati-hati untuk mengikuti diet dan membatasi cairan, efek samping dapat dihindari.

Mitos: Dialisis adalah hukuman mati.
Fakta: Tidak, dialisis membantu Anda berumur panjang. Bila Anda, keluarga Anda dan dokter memutuskan bahwa sudah waktunya bagi Anda untuk menjalani cuci darah, artinya adalah Anda akan hidup dan merasa lebih baik.

Mitos: Pasien dialisis tidak memiliki waktu atau energi untuk bekerja.
Fakta: Banyak pasien dialisis dapat kembali bekerja atau sekolah setelah mereka terbiasa melakukan dialisis.

Mitos: Pasien dialisis tidak memiliki hak dalam pengobatan mereka.
Fakta: Anda sebagai pasien memiliki banyak kontrol atas perawatan Anda. Pasien memiliki hak yang meliputi perawatan berkualitas, privasi, informasi medis, pekerjaan sosial dan konseling diet

Mitos: Sebagai pasien dialisis, saya akan merasa sendirian dan akan menjadi beban bagi keluarga saya.
Fakta: Banyak pasien dialisis, setelah terbiasa dengan perawatan dialisis, mereka mulai merasa jauh lebih baik daripada sebelum memulai dialisis. Selain itu, banyak pasien dialisis yang terlibat dalam kegiatan relawan untuk membantu orang lain yang mengalami kondisi sama dengan diri mereka sendiri, misalnya berpartisipasi dalam kegiatan kesadaran ginjal.

Hubungan erat antara hipertensi dan gagal ginjal

Tahukah Anda kalau penyakit ginjal dapat mengakibatkan tekanan darah tinggi? Ginjal dan peredaran darah adalah dua komponen yang bergantung satu dengan yang lain untuk kesehatan Anda.
Apa itu tekanan darah tinggi (hipertensi)?
Tekanan darah adalah tekanan yang dipakai oleh darah Anda saat jantung Anda memompa darah. Tekanan darah tinggi, atau hipertensi, berarti adanya tingkat tekanan yang dipakai darah yang lebih tinggi dari normal. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi, termasuk naiknya volume darah akibat kelebihan cairan di darah dan pembuluh darah yang sempit atau tersumbat.
Hasil dari tes tekanan darah biasanya tertulis dalam bentuk dua angka yang dipisahkan dengan garis miring. Misalnya, tim medis menuliskan bahwa tekanan darah Anda 120/80. Angka yang pertama menunjukkan tekanan sistolik, yaitu tekanan pada detak jantung dan gaya dorong saat darah melaju melewati pembuluh darah. Sedangkan angka yang kedua menunjukkan tekanan diastolik, yaitu tekanan saat pembuluh darah dalam keadaan istirahat di antara detak jantung.
Jika Anda mengidap hipertensi, Anda harus berkonsultasi dengan tim medis tentang tekanan darah Anda dan seberapa sering Anda harus mengecek tekanan darah Anda.

Apa yang ginjal lakukan di tubuh Anda?

Ginjal adalah salah satu organ di dalam tubuh kita yang berperan dalam sistem ekskresi. Ginjal terletak di bawah tulang rusuk. Berjumlah sepasang (satu di sebelah kiri dan satu di sebelah kanan), ginjal berbentuk seperti kacang dan memiliki ukuran sebesar kepalan tangan. Setiap harinya, sepasang ginjal ini menyaring sekitar 115 sampai 140 liter darah untuk memproduksi sekitar 1-2 liter urin yang terdiri dari sisa-sisa “sampah” tubuh dan cairan berlebih. Urin ini mengalir dari ginjal ke kandung kemih melalui “pipa” yang disebut ureter. Di kandung kemih inilah urin disimpan. Ketika kandung kemih dalam keadaan kosong, berarti urin sdang mengalir keluar dari tubuh melalui “pipa” lain yang disebut uretra. Uretra terletak dibawah kandung kemih.
Meskipun ginjal menyaring ratusan liter air per harinya, sebenarnya ginjal bekerja dalam tingkat mikroskopis. Ginjal bukan bekerja seperti sistem penyaringan yang besar. Setiap ginjal terdiri dari berjuta-juta unit penyaringan yang dinamakan nefron. Setiap nefron menyaring darah dalam jumlah sedikit. Nefron ini sendiri terdiri dari penyaring yang disebut glomerulus, dan tubulus. Nefron bekerja dengan melalui 2 tahap. Tahap pertama, glomerulus menyaring sel darah dan molekul-molekul besar seperti protein, dan membiarkan cairan dan sisa-sisa tubuh lewat dan masuk ke tubulus. Di tubulus ini, mineral-mineral pada cairan tersebut disaring untuk dimasukkan lagi ke dalam peredaran darah. Sehingga akhirnya, produk akhir yang dihasilkan adalah urin yang dikeluarkan oleh tubuh kita, yang terdiri dari sisa-sisa “sampah” tubuh dan cairan berlebih.

Lalu, bagaimana hipertensi dan penyakit ginjal bisa berhubungan?

1. Hipertensi menyebabkan kerusakan pada arteri, yang merupakan salah satu komponen penting pada ginjal


Darah yang akan disaring oleh ginjal dialirkan melalui pembuluh darah yang berada di sekitar ginjal, dan banyak sekali darah yang mengalir di pembuluh darah ini. Seiring berjalannya waktu, kalau hipertensi tidak terkontrol, maka akan menyebabkan arteri di sekitar ginjal ini menyempit, melemah, dan mengeras. Kerusakan pada arteri ini menghambat darah yang diperlukan oleh jaringan pada ginjal.

2. Kerusakan pada arteri nefron mengakibatkan darah tidak tersaring dengan baik


Seperti tadi sudah disebutkan, ginjal terdiri dari berjuta-juta nefron yang berfungsi sebagai unit penyaringan pada ginjal. Nefron ini menerima suplai darah melalui pembuluh darah terkecil (kapiler yang berbentuk seperti rambut kecil) di tubuh Anda. Kalau arteri ini rusak, maka nefron tidak menerima oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan. Hingga akhirnya, ginjal kehilangan kemampuannya untuk menyaring darah dan mengatur cairan, hormon, asam, dan garam di tubuh Anda.

3. Kerusakan pada ginjal mengakibatkan terganggunya pengaturan tekanan darah


Ginjal yang sehat biasanya memproduksi hormon yang dapat membantu tubuh mengatur tekanan darah. Kerusakan pada ginjal dan tekanan darah yang tidak terkontrol masing-masing menyebabkan dampak negatif satu sama lain. Dengan arteri yang mengalami gangguan dan berhenti berfungsi, maka ginjal akan mengalami gagal ginjal. Proses ini dapat terjadi bertahun-tahun. Tetapi untungnya, penyakit ini dapat dicegah.

Apa tanda-tanda orang yang mengalami hipertensi dan penyakit ginjal?

Biasanya orang yang mengalami tekanan darah tinggi tidak ada tanda-tanda khusus. Tetapi dalam kasus hipertensi yang cukup tinggi, gejala dimulai dengan sakit kepala.
Sama halnya dengan penyakit ginjal. Waktu penyakit ginjal baru muncul, tidak ada tanda-tanda yang berarti. Mungkin penderita akan mengalami pembengkakan pada tubuh, atau yang disebut edema, pada kaki, telapak kaki, lutut, atau (meskipun jarang) pada wajah dan tangan. Edema ini terjadi karena ginjal tidak dapat mengeluarkan cairan berlebih atau garam dari dalam tubuh.
Begitu peyakit ginjal mulai semakin parah, berikut tanda-tanda yang muncul:
  • Kehilangan nafsu makan
  • Mual
  • Muntah-muntah
  • Mengantuk atau merasa lelah
  • Gatal-gatal atau keram
  • Kulit kering
  • Sakit kepala
  • Berat badan menurun
  • Warna kulit menjadi lebih gelap
  • Keram otot
  • Napas menjadi pendek-pendek
  • Sakit pada dada

Bagaimana mendiagnosis penyakit ginjal dan hipertensi?

1. Diagnosis hipertensi


Tim medis akan mendiagnosis tekanan darah tinggi dengan tes tekanan darah beberapa kali, yang biasanya diulang saat mengunjungi dokter beberapa kali. Anda akan didiagnosis tekanan darah tinggi bila tekanan darah Anda secara konsisten diatas 140/90. Tekanan darah diukur dengan alat yang bernama sphygmomanometer. Alat ini juga dapat Anda beli dari toko kesehatan untuk mengukur tekanan darah Anda sendiri di rumah.

2. Diagnosis penyakit ginjal


Penyakit ginjal didiagnosis melalui tes urin dan tes darah.

Tes urin


1. Tes dipstick untuk albumin
Tes dipstick dilakukan untuk mendeteksi adanya albumin pada urine. Albumin adalah protein dalam darah yang bisa jadi tidak tersaring oleh ginjal saat ginjal mengalami kerusakan. Cara melakukan tes ini adalah, pertama-tama pasien menampung urin mereka di wadah yang sudah disiapkan tim medis. Lalu tim medis dapat mengetes sampel urin ini di tempat atau dikirim ke laboratorium untuk analisis lebih lanjut. Tes ini menggunakan dipstick, kertas kimia yang bereaksi terhadap zat protein. Bila warna dipstick berubah, berarti ada darah atau protein yang terkandung di urin tersebut.
2. Rasio albumin dan kreatinin pada urin
Tim medis menggunakan pengukuran albumin dan kreatinin untuk menentukan rasio antara albumin dan kreatinin pada urin. Kreatinin adalah produk sisa-sisa tubuh pada darah yang disaring di ginjal dan dikeluarkan dalam bentuk urin. Kalau rasio albumin dan kreatinin lebih dari 30mg/g, maka hal ini bisa mengindikasikan adanya penyakit ginjal.

Tes darah


Tes darah ini biasanya dilakukan untuk mengetahui seberapa banyak darah yang dapat disaring oleh ginjal per menit, yang dinamakan estimated glomerular filtration rate (eGFR). Berikut arti dari hasil eGFR:
  • Kalau eGFR Anda sebesar 60 atau lebih, artinya ginjal Anda berfungsi secara normal
  • Kalau eGFR Anda di bawah 60, artinya ginjal Anda mungkin mengalami masalah
  • Kalau eGFR Anda sebesar 15 atau kurang, artinya Anda mungkin mengalami gagal ginjal

Pengertian Gagal Ginjal Kronis

Pengertan Gagal Ginjal Kronis
Penyakit ginjal kronis atau yang lebih dikenal di masyarakat dengan istilah gagal ginjal kronis (GGK) adalah kondisi saat fungsi ginjal mulai menurun secara bertahap. Indonesia Renal Registry mendefinisikan gagal ginjal kronis sebagai kerusakan ginjal, dapat berupa kelainan jaringan, komposisi darah dan urine atau tes pencitraan ginjal, yang dialami lebih dari tiga bulan.

Status GGK berubah menjadi gagal ginjal tahap akhir (End-Stage Renal Disease/ESRD) ketika ginjal tidak lagi berfungsi. Pada stadium ini biasanya telah terjadi penumpukan limbah tubuh, cairan, dan elektrolit yang bisa membahayakan tubuh jika tanpa dilakukan penyaringan buatan (dialisis/cuci darah) atau transplantasi ginjal.

Gagal Ginjal Kronis-Alodokter

GGK sendiri, biasanya tidak menimbulkan gejala sehingga membuat pengidap penyakit ini biasanya tidak menyadari gejalanya hingga mencapai stadium lanjut. GGK biasanya terdeteksi pada stadium dini ketika dilakukan pemeriksaan darah atau urine.

GGK stadium lanjut umumnya mengalami gejala: sesak napas, mual, kelelahan, mengalami pembengkakan pergelangan kaki, kaki, atau tangan karena terjadi penumpukan cairan pada sirkulasi tubuh, sesak napas, serta munculnya darah dalam urin.

Pemeriksaan darah dan urin secara teratur setiap tahun sangat disarankan bagi orang-orang yang berisiko tinggi mengidap penyakit ginjal kronis. Anda termasuk berisiko tinggi, antara lain jika memiliki tekanan darah tinggi, mengidap diabetes, dan memiliki riwayat keluarga pengidap penyakit ginjal kronis.

Fungsi Ginjal dan Penyebab Gagal Ginjal Kronis
Ginjal terletak di bawah tulang rusuk. Bentuknya menyerupai sepasang kacang di kedua sisi tubuh.
Ginjal berfungsi menyaring limbah dan kelebihan cairan dari darah sebelum dibuang melalui cairan urine. Ginjal juga memiliki berbagai fungsi lain yang tidak kalah penting, yaitu:

Mengatur kadar bahan kimia dalam tubuh sehingga membantu jantung dan otot agar bekerja dengan baik.
Membantu mengatur tekanan darah.
Memproduksi zat sejenis vitamin D yang menjaga kesehatan tulang.
Memproduksi hormon glikoprotein  disebut erythropoietin yang membantu merangsang produksi sel-sel darah merah.
Beberapa kondisi seperti diabetes dan tekanan darah tinggi menjadi beberapa penyebab terjadinya gagal ginjal kronis. Dalam jangka panjang, kondisi-kondisi ini menyebabkan kerusakan pada ginjal sehingga fungsi ginjal menurun.
Pengidap Penyakit Gagal Ginjal Kronis di Indonesia
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 oleh Kementrian Kesehatan RI, sebanyak 0.2% dari total jumlah penduduk Indonesia mengalami kondisi ini. Provinsi Sulawesi Tengah merupakan daerah dengan angka tertinggi yaitu, 0.5% dari total jumlah penduduk di provinsi tersebut.
Dari data 7th Report of Indonesian Renal Registry tahun 2014, pasien gagal ginjal yang melakukan cuci darah paling banyak disebabkan karena hipertensi (37%). Diikuti diabetes (27%), dan kelainan bawaan (10%).

Berbagai Cara Penanganan Gagal Ginjal Kronis
Terdiagnosis mengidap GGK dapat membuat Anda dan kerabat merasa cemas. Berkonsultasi dengan dokter dan sesama pengidap dapat membuat Anda menemukan cara agar penyakit ini tidak mengambil alih hidup Anda.
Ini dikarenakan memang tidak ada obat yang dapat menyembuhkan gagal ginjal. Perawatan terhadap penyakit ini hanya berfokus memperlambat atau menghentikan perkembangan penyakit dan mencegah munculnya kondisi serius lain. Selain itu, terapi juga bertujuan untuk mengurangi gejala yang timbul akibat GGK.

Perubahan yang terjadi dalam sirkulasi tubuh membuat pengidap penyakit ginjal kronis menjadi lebih berisiko menderita stroke atau penyakit jantung.

Pada penderita gagal ginjal stadium akhir (End-Stage Renal Disease/ESRD) harus dilakukan cuci darah atau transplantasi ginjal untuk menggantikan fungsi ginjal yang telah rusak.

Agar Terhindar dari Gagal Ginjal Kronis
Pengidap kondisi-kondisi tertentu yang berisiko mengarah ke penyakit ginjal kronis seperti diabetes dan tekanan darah tinggi disarankan untuk mewaspadai perkembangan penyakit mereka. Perubahan gaya hidup seperti pola makan sehat, berolahraga teratur, menghindari konsumsi obat-obatan yang dapat merusak ginjal dan menghindari kelebihan konsumsi minuman keras akan membantu mencegah terjadinya gagal ginjal.

Apa itu penyakit ginjal Polikistik


Apa itu Penyakit Ginjal Polikistik: Penyebab, Gejala, Diagnosis, & Cara Mengobati
Apa Itu Penyakit Ginjal Polikistik?

Polycistic Kidney Disease
Penyakit Ginjal Polikistik adalah kelainan ginjal yang ditandai dengan pembentukan kista non kanker yang merusak fungsi ginjal dan akhirnya menyebabkan gagal ginjal total, biasa disingkat PKD (Polycystic Kidney Disease).

Kista yang muncul pada kasus PKD mungkin tidak bersifat kanker, namun gangguan ini tidak hanya menyerang ginjal. Terdapat kemungkinan kista menyebar ke organ lainnya, seperti hati, jantung, dan otak dan ini dapat menyebabkan murmur jantung, aneurisma otak atau bahkan stroke hingga kematian.

Terdapat tiga jenis PKD: PKD Autosom Resesif (ARPKD), PKD Autosom Dominan (ADPKD), dan Penyakit Ginjal non keturunan (ACKD). Dari ketiga jenis ini, hanya ACKD yang tidak diwariskan.

Sembilan puluh persen kasus PKD adalah ADPKD (turunan), terutama karena hanya satu orang tua yang perlu memiliki penyakit ini untuk diturunkan ke anak-anaknya. Seorang anak mungkin sudah menunjukan gejala awal penyakit, namun biasanya muncul ketika si anak mencapai umur 30 atau 40 tahun.

ARPKD tidak terlalu umum karena kedua orang tua perlu memiliki gangguan ynag sama untuk diturunkan ke anaknya. Selanjutnya, ARPKD diklasifikasikan menjadi 4 jenis: perinatal, neonatal, bayi, dan remaja. Setiap jenis ini didasarkan pada usia hidup ketika gejala mulai muncul.

Orang yang sudah memiliki masalah ginjal berada pada risiko terkena ACKD, terutama jika sudah menjalani dialisis karena gagal ginjal.

Penyebab Penyakit Ginjal Polisistik

PKD disebabkan oleh kelainan gen yang dapat diturunkan dari orangtua ke anak. Namun, pada kasus yang jarang terjadi di mana tidak ada riwayat keluarga memiliki PKD, gangguan ini disebabkan oleh mutasi genetik.

Jika tidak ditangani, PKD dapat menyebabkan berbagai komplikasi, beberapa diantaranya dapat mengancam jiwa. Beberapa kompikasi yang paling umum adalah tekanan darah tinggi, kista pada hati, berkurangnya atau hilangnya fungsi ginjal keseluruhan, masalah usus besar, sakit kronis, aneurisma otak, dan kelainan katup jantung.

Umum bagi ibu hamil untuk memperlihatkan gejala selama masa kehamilan karena kebanyakan orang dengan PKD telah memiliki gangguan tersebut sejak kecil. Meski sebagian besar kehamilan dengan PKD tidak memperlihatkan gejala, ada kemungkinan bagi ibu hamil tersebut terserang suatu kondisi yang disebut preeklampsia.

Gejala Utama Penyakit Ginjal Polikistik

Penyakit Ginjal Polikistik adalah gangguan ginjal, namun gangguan ini juga mempengaruhi organ lain, yang umumnya menjadi alasan mengapa gangguan ini memperlihatkan berbagai gejala. Beberapa gejala yang paling umum adalah hipertensi, darah pada urin, infeksi saluran kemih, infeksi ginjal, gagal ginjal, peningkatan ukuran perut, nyeri punggung, sakit kepala, dan sering buang air kecil.

Penting untuk dicatat bahwa kebanyakan orang dengan PKD tidak memperlihatkan gejala hingga tua. Banyak pasien PKD bahkan tidak tahu bahwa mereka memiliki gangguan tersebut. Sayangnya, tidak adanya gejala tidak berarti bahwa gangguan tersebut belum menyebabkan kerusakan pada ginjal.

Penting untuk Anda berkonsultasi dengan dokter jika Anda menemukan salah satu gejala di atas. Jika Anda tidak memilik gejala apapun, tetapi PKD terdapat dalam riwayat keluarga Anda atau jika dimiliki oleh keluarga tingkat pertama, Anda harus berkonsultasi dengan dokter sebagai tindakan pencegahan.

Siapa yang Harus Ditemui & Perawatan yang Tersedia

Sebagian besar gejala PKD juga terkait dengan berbagai penyakit dan gangguan. Ada kemungkinan Anda harus berkonsultasi dengan dokter dan menyebutkan satu atau lebih gejala sebagai keluhan utama Anda. Kemudian, dokter akan meninjau riwayat kesehatan Anda dan melakukan pemeriksaan fisik. Anda mungkin perlu menjalani beberapa pemeriksaan laboratorium, seperti penghitungkan darah lengkap (CBC) dan pemeriksaan urin, untuk menentukan penyebab dari gejala.

Jika dokter Anda mencurigai adanya PKD, dokter akan meninjau riwayat keluarga Anda. Anda kemudian akan dirujuk ke dokter ahli untuk diperiksa lebih lanjut untuk menentukan kondisi dan perawatan Anda.

Setelah dokter ahli ginjal menerima kasus Anda, Anda akan menjalani pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan penyebab kondisi dan seberapa jauh penyakit Anda telah menyebar dalam tubuh Anda. Ingat bahwa kista tidak hanya mempengaruhi ginjal, tetapi juga bisa menyebar ke organ lainnya.

Pemeriksaan yang paling umum termasuk USG untuk menemukan kista pada perut; CT scan atau sinar-X perut untuk menemukan kista kecil; MRI perut untuk melihat kondisi ginjal Anda; dan pielogram intravena sehingga pembuluh darah akan muncul dengan jelas pada sinar-X.

Jika dokter ahli mencurigai adanya risiko aneurisma otak, Anda juga akan menjalani angiografi serebral.

Setelah dokter ahli memastikan organ dalam tubuh yang terserang PKD, Anda akan diberikan rencana perawatan. Sangat penting untuk dipahami bahwa perawatan PKD melibatkan pengendalian gejala, utamanya tekanan darah tinggi, ynag merupakan penyebab utama dari berbagai masalah medis, seperti gagal ginjal dan penyakit jantung.

Perawatan Anda juga akan mencakup pemberian obat untuk mengurangi rasa sakit, antibiotik untuk mengobati infeksi, diuretic untuk menghilangkan kelebihan cairan, dan operasi untuk mengeringkan kista. Anda juga akan diberikan pola makan rendah garam untuk mengurangi kemungkinan penimbunan cairan.

Jika PKD telah mempengaruhi ginjal, dialis akan dianjurkan untuk mencegah penumpukan produk pembuangan dalam aliran darah Anda. Jika Anda mengalami gagal pada kedua ginjal, transplantasi ginjal akan diperlukan.

Dengan perawatan dan perubahan gaya hidup yang tepat, banyak orang dengan PKD dapat hidup normal. Namun, pada beberapa orang, PKD semakin parah hingga menyebabkan penyakit hati atau gagal ginjal. Jika masalahnya terpusat pada ginjal, transplantasi ginjal akan membantu Anda untuk hidup normal.

Pasien dengan PKD akan membutuhkan banyak dukungan dari teman dan anggota keluarga. Dalam beberapa kasus, pasien juga perlu menjalani bimbingan untuk membantunya mengatasi kondisi tersebut. Untungnya, sejumlah kelompok pendukung berdedikasi untuk membantu pasien PKD menjalani kehidupannya meskipun adanya gangguan tersebut. 

Rujukan:

Amaout MA. Cystic kidney diseases. In: Goldman L, Ausiello D, eds. Cecil Medicine. 24th ed. Philadelphia, Pa: Saunders Elsevier; 2011:chap 128.
Porter CC, Avner Ed. Anatomic abnormalities associated with hematuria. In: Kliegman RM, Stanton BF, St. Geme JW III, Schor NF, Behrman RE, eds. Nelson Textbook of Pediatrics. 19th ed. Philadelphia, Pa: Saunders Elsevier; 2011:chap 515.
Torres VE, Grantham JJ. Cystic diseases of the kidney. In: Brenner BM, ed. Brenner and Rector’s the Kidney. 8th ed. Philadelphia, Pa: Saunders Elsevier; 2007:chap 41.

Detak Jantung Tidak Teratur dapat memperburuk Kesehatan Ginjal

Jakarta, Orang dewasa yang detak jantungnya tidak teratur, harus lebih mewaspadai beberapa masalah kesehatan yang mengancamnya. Seseorang yang mengalami masalah pada ginjalnya, dapat berkembang dengan cepat ke stadium kronis jika kondisi jantungnya buruk.

Gangguan detak jantung yang tidak teratur pada orang dewasa, dikenal dengan istilah atrial fibrilasi. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa seseorang yang memiliki penyakit ginjal dan memiliki atrial fibrilasi, cenderung sangat berisiko terhadap stroke dan kematian.

Para peneliti dari University of California, San Francisco (UCSF) dan Kaiser Permanente Northern California Division of Research melakukan penelitian yang melibatkan 206.229 pasien dengan penyakit ginjal. Setelah melewati masa studi 5 tahun, peneliti kembali memantau kondisi kesehatannya.

Menurut sebuah pernyataan dari UCSF, sekitar 16.400 pasien ginjal tersebut mengembangkan atrial fibrilasi. Sekitar 67 persen dari jumlah tersebut lebih mungkin mengembangkan penyakit ginjal ke tingkat kronis, bahkan dapat berujung pada kematian.

"Temuan baru ini menunjukkan bahwa seseorang yang mengalami gagal ginjal atau masalah pada ginjalnya, harus menjaga diri agar tidak mengembangkan atrial fibrilasi," kata Nisha Bansal, asisten profesor Nefrologi di UCSF.

Hasil penelitian ini kemudian diterbitkan dalam jurnal Circulation edisi bulan Januari, seperti dilansir health.india, Selasa (22/1/2013).

"Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa pada orang sehat sekalipun, dampak jangka panjang dari atrial fibrilasi juga meningkatkan risiko yang merugikan kondisi ginjalnya," kata Alan S. Go, penulis studi tersebut dan direktur Kaiser Permanente Northern California Division of Research.

Sumber : http://health.detik.com

Sakit Ginjal Muncul tanpa Gejala pada stadium awal

Jakarta, Pernahkah Anda merasakan kejanggalan pada tubuh Anda namun tidak merasakan sakit atau nyeri pada tubuh Anda? Waspadalah, bisa jadi itu merupakan gangguan fungsi ginjal. Karena sakit ginjal muncul tanpa gejala, cegahlah sejak dini.

Nah, gangguan fungsi ginjal meliputi gangguan akut dan kronik. "Pada masa akut atau dalam kerusakan yang bersifat ringan atau sedang, tubuh tidak akan merasakan rasa sakit yang ditimbulkan oleh gangguan fungsi ginjal," kata dr. Dharmeizar, Sp.PD-KGH Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI).

Namun jika merasakan kejanggalan pada tubuh Anda, segera periksakan ke dokter. Gangguan fungsi ginjal yang berada pada stadium 4 atau 5 akan sangat terasa dampaknya.

"Pasien harus melakukan hemodialisis atau cuci darah seumur hidup bahkan jika terlalu parah maka akan dilakukan transplantasi ginjal.", kata dr. Dharmeizar.

Berikut faktor-faktor penyebab gangguan fungsi ginjal kronik yaitu iskemia, nefrotoksik, juga obstruksi berupa batu ginjal. Batu ginjal dapat terbentuk dari kalsium di dalam darah, oxalat dari teh, serta kafein yang berasal dari kopi atau minuman sejenisnya.

Pembentukan batu ginjal bisa dicegah. Caranya adalah dengan mengonsumsi cukup air selama beraktivitas dalam 24 jam dan kurangi makanan yang banyak mengandung protein.

Jika bosan, tambahkan irisan lemon atau jeruk nipis dalam air minum Anda. Karena lemon memiliki kandungan asam sitrat yang baik untuk mencegah pembentukan batu ginjal.

Sumber : http://health.detik.com

Gangguan Jiwa ini sering dialami Pasien Gagal Ginjal

Jakarta, Ginjal berfungsi menyaring limbah sisa metabolisme tubuh dari darah untuk dibuang lewat urine. Pada pasien gagal ginjal, fungsi penyaringan ini lumpuh sehingga membutuhkan cuci darah. Selain mengganggu fisik, ternyata komplikasi gagal ginjal juga bisa memicu gangguan jiwa.

"Selain perjalanan penyakit yang panjang, ketidakmampuan pasien dan perasaan tidak nyaman yang diakibatkan karena bergantung dengan mesin hemodialisis sering menjadi sumber putus asa yang mengarah kepada kendala psikologis lebih lanjut," kata dr Andri, SpKJ, Psikiater Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera dalam surat elektroniknya kepada detikHealth, Rabu (6/3/2013).

Lebih lanjut lagi, dr Andri menerangkan bahwa penelitian sebelumnya mengungkap hubungan antara gagal ginjal dengan timbulnya gangguan psikiatri pada pasien. Kondisi ini bisa terjadi pada kasus gagal ginjal akut maupun kronis. Beberapa gangguan psikiatri yang sering menyerang pasien gagal ginjal yaitu:

1. Delirium
Delirium adalah kondisi medis yang ditandai dengan kesulitan konsentrasi dan gangguan kecerdasan sampai kebingungan yang disertai dengan kelesuan. Delirium pada kondisi gagal ginjal dikaitkan dengan kegagalan ginjal dalam mengeluarkan metabolit beracun dari dalam tubuh lewat saluran kemih.

"Penyebabnya bisa karena kadar ureum dalam darah yang meningkat (uremia), anemia dan hiperparatiroidisme. Kondisi ini juga bisa terjadi seiring dengan peningkatan pasien diabetes yang menerima dialisis akibat kondisi disfungsi ginjalnya," terang dr Andri.

Biasanya dengan hemodialisis atau cuci darah, kondisi gangguan kognitif pasien akan kembali normal seperti sedia kala. Namun ada kalanya beberapa kondisi ini menetap.

2. Depresi
Depresi adalah kondisi gangguan kejiwaan yang paling banyak ditemukan pada pasien gagal ginjal. Prevalensi depresi berat pada populasi umum adalah sekitar 1,1 - 15% pada laki-laki dan 1,8 - 23% pada wanita. Namun pada pasien hemodialisis, prevalensinya sekitar 20 - 30%, bahkan bisa mencapai 47%.

"Kondisi gagal ginjal yang biasanya dibarengi dengan hemodialisis adalah kondisi yang sangat tidak nyaman. Kenyataan bahwa pasien gagal ginjal, terutama gagal ginjal kronis yang tidak bisa lepas dari hemodialisis sepanjang hidupnya menimbulkan dampak psikologis yang hebat," papar dr Andri.

Faktor kehilangan sesuatu yang sebelumnya ada seperti kebebasan, pekerjaan dan kemandirian adalah hal-hal yang sangat dirasakan oleh para pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis. Hal ini bisa menimbulkan gejala-gejala depresi yang nyata pada pasien gagal ginjal sampai dengan tindakan bunuh diri.

3. Sindrom Disequilibrium
Gangguan ini cukup sering terjadi pada pasien hemodialisis dan biasanya terjadi 3 - 4 jam setelah hemodialisis, namun bisa juga terjadi 8 - 48 jam setelahnya. Kondisi ini muncul karena terjadi ketidakseimbangan osmotik dan perubahan pH darah yang cepat sehingga memicu gejala seperti sakit kepala, mual, kram otot, iritabilitas, agitasi, mengantuk dan terkadang kejang. Gejala psikosis juga bisa terjadi.

"Biasanya kondisi ini terjadi pada pasien yang baru pertama kali menjalani hemodialisis. Kondisi ini biasanya segera terjadi setelah hemodialisis, namun bisa segera membaik jika diberikan penanganan yang tepat. Penggunaan obat antipsikotik dosis kecil bisa diberikan kepada pasien untuk mengatasi gejala-gejala psikotik yang timbul akibat kondisi ini," kata dr Andri.

Sumber : http://health.detik.com/read/2013/03/06/191818/2187865/763/gangguan-jiwa-ini-sering-dialami-pasien-gagal-ginjal?l992205755
 
close
close
 
SELAMAT DATANG DI UNIT HEMODIALISA RSUD TAMAN HUSADA BONTANG, Semoga dengan adanya blog ini kita bisa lebih mengenal tentang apa itu hemodialisa..DENGAN HEMODIALISA KUALITAS HIDUP MENJADI LEBIH BAIK...#Terima kasih atas kunjungan anda